And So We Reach The End…

December 28th, 2007 by thepopism

Terhitung mulai hari ini, tanggal 29 Desember 2007, saya tidak akan lagi menulis di blog ini. Karena ternyata susah mengurus dua blog pada saat yang bersamaan. Selama ini selain menulis di blog ini, saya juga menulis di multiply. Dan sepertinya semakin hari saya lebih nyaman menulis dan memposting apapun juga, baik itu video, musik ataupun foto di multiply.

Jadi selamat tinggal blog friendsterku. Terima kasih atas dua tahun yang hebat ini :)

Jika Anda ingin membaca tulisan-tulisan saya, bisa melihatnya di alamat ini

Review Album Radiohead - In Rainbows

October 24th, 2007 by thepopism

39246inrainbows
Tanggal 10 Oktober 2007 adalah hari yang bersejarah untuk industri musik, disaat Radiohead merilis album ketujuhnya yang bertajuk In Rainbows secara digital dan semua orang dibebaskan untuk membayar berapapun yang mereka mau – bahkan bisa dengan cuma-cuma - untuk mengunduh album ini. Merilis album secara digital memang bukan Radiohead yang pertama melakukannya. Namun yang membuat hari itu bersejarah adalah dimana banyak orang di dunia pada hari dan waktu yang sama mendengarkan secara serempak album ini, kemudian saat itu juga menuliskan pendapatnya masing-masing di berbagai blog dan webzine musik lalu menghasilkan sebuah diskusi komunal. Rasanya kita tidak lagi perlu membaca Pitchfork, All Music Guide dan berbagai publikasi elite lainnya yang terpercaya untuk menilai album ini bagus atau tidak.

Dan kini, setelah mendengarkan album ini berulang-ulang saya mulai merasa bersalah karena mendapatkannya dengan gratis. Album ini semakin menunjukkan kelas Radiohead sesungguhnya yang tidak akan bisa dicapai oleh berbagai band pengekornya. Dalam album ini mereka tidak membuat musik yang semakin rumit (atau dirumit-rumitkan seperti yang banyak dilakukan oleh band pengekornya), namun dengan komposisi yang paling sederhana pun, musik mereka sudah terdengar kompleks. Tentunya tanpa harus menjadi pretensius.

Setelah perjalanan panjang musikal mereka yang begitu berwarna dan penuh dengan gejolak, tampaknya saat ini adalah waktu tepat bagi mereka untuk beristirahat. Seperti seorang pengembara tua yang telah banyak makan asam garam yang pada akhirnya pulang ke rumahnya dengan damai. Ada kenyamanan dan rasa yang begitu relaks yang terpancar dari Thom Yorke dan kawan-kawan dalam album ini.

Seperti pada track “Nude” yang merupakan favorit saya pribadi. Sebuah track downtempo yang hommy dan begitu hangat, dengan balutan seksi gesek yang megah dan agung membawa kenyamanan tersendiri saat mendengarnya. Bagian paling mengagumkan di lagu ini, pada bagian outro disaat saya mengira lagu ini akan berakhir, tiba-tiba terjadi sebuah overtune yang singkat dengan pengawalan suara falsetto Thom Yorke yang kian meninggi yang kesemuanya seakan-akan membawa saya yang tadinya sedang terbang rendah di udara secara sekejap melesat jauh ke luar angkasa dan meninggalkan saya mengambang sendiri di kehampaan udara dengan gravitasi nol.

Kenyamanan yang disajikan oleh Radiohead tidak hanya di lagu-lagu bertempo pelan, bahkan untuk lagu “Bodysnatchers” yang merupakan track yang paling keras dan cepat dalam album ini, mereka tetap terdengar santai, tanpa harus meledak-ledak dan tidak membuat telinga pengang. Berbagai ramuan musik elektronika yang biasa mereka lakukan di album-album terakhir, kali ini disajikan dengan bumbu yang lebih sederhana namun tetap memikat dan legit untuk dikonsumsi semua orang tanpa harus mengernyitkan dahi masing-masing. Contohnya adalah track pembuka “15 Step”

Dalam album ini, saya juga mendapati Radiohead pada akhirnya tidak terdengar seutuhnya seperti Radiohead – seperti yang mereka biasa lakukan di album-album sebelumnya. Maksud saya disini, saat mendengar beberapa lagu dalam album ini, saya juga mendengar berbagai pengaruh dari musik dan artis lain di lagu-lagu tersebut. Seperti saat saya mendengar “Faust Arp”, saya merasakan nuansa kemuraman Nick Drake, terlebih saat mendengar alunan seksi gesek yang bergelayut murung di tengah petikan gitar akustik. Sedangkan di akhir lagu “Reckoner”, saya mendengar sedikit kemiripan dengan lagu “Sily Love Song” dari Paul McCartney era Wings. Dan di lagu “House of Cards” kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan oleh The Byrds di lagu “Going Back” Kemiripan-kemiripan ini menurut saya tidaklah buruk, malah hal ini membawa sebuah kesegaran bagi Radiohead yang selama ini seakan-akan terlalu sibuk berkutat dengan dirinya sendiri.

Seperti menemukan sebuah emas di ujung pelangi, album hebat ini diakhiri dengan sangat syahdu melalui “Videotape”, dengan alunan piano yang menjadi dasar dari berbagai rangkaian suara perkusi yang dinamis serta janggal, seraya Thom Yorke meninggalkan sebuah pesan perpisahan : “This is my way of saying goodbye / Because I can’t do it face to face.”

Sekarang saya jadi bertanya-tanya, apakah ini adalah benar-benar sebuah kalimat perpisahan dari Thom Yorke dan kawan-kawan? Setelah The Bend, OK Computer, dan Kid A, apa lagi yang kira-kira bisa diberikan Radiohead di album selanjutnya? Mungkin akan lebih bijak jika mereka membubarkan diri saja setelah album ini, agar nama mereka akan selalu dikenang dengan indah. Karena saya takut jika mereka terus memaksakan diri untuk selalu membuat album, mereka akan berakhir seperti kisah band-band veteran lainnya yang mencoba bertahan untuk terus eksis di industri musik sekarang ini dengan menjadi mayat hidup.

Album Review Justice - Cross

August 1st, 2007 by thepopism

Justice_1
Noise adalah suara yang paling dihindari - baik itu di atas panggung
maupun saat di dalam studio - oleh para musisi yang terbiasa memainkan
instrumen musik elektrik. Terkadang kabel jack yang menghubungkan
instrumen elektrik pada amplifier tidak begitu bagus kondisinya,
sehingga sering menimbulkan noise yang sangat menganggu untuk didengar.
Namun setelah saya mendengarkan “Waters of Nazareth” yang ada dalam
debut album Justice ini, pandangan saya terhadap noise yang berisik dan
kotor tersebut telah berubah. Kini noise bukan lagi musuh utama di
dalam musik. Melainkan bisa menjadi elemen penting yang akan memperkaya
musik itu sendiri.

Saya tidak habis berpikir bagaimana dua
pemuda asal Perancis ini bisa meramu noise yang gaduh sedemikian rupa
sehingga bisa membuat suatu orkestrasi suara yang indah dan adiktif
untuk didengar. Begitu juga pada “New Jack”, dimana drum dan bas
disusupi oleh pihak ketiga – dalam hal ini noise – yang
bersahut-sahutan dengan robot-voiced synthesizers lalu menghasilkan
sebuah dance music yang sangat subtil yang secara stimultan bisa
membuat beberapa bagian tubuh manusia untuk bergerak dengan sendirinya.

Di luar itu semua, yang pasti album ini memberikan banyak
jawaban mengapa Justice - sebagai sebuah grup baru - bisa dibicarakan
banyak orang serta menarik perhatian yang begitu besar jauh sebelum
album debut mereka dirilis baru-baru ini. Sebelumnya, saya mengetahui
keberadaan grup Justice dari teman saya Adit Ngkud.
Dia sering sekali membahas grup Justice di halaman Multiplynya. Saat
itu saya belum pernah mendengar musiknya, namun saya juga belum
tergerak untuk mengunduh musik mereka. Sampai suatu malam saat sedang
menonton televisi, saya melihat video musik dari lagu “D.A.N.C.E.” Dan
mulai detik itu rasa ketertarikan saya terhadap grup ini mulai tumbuh.
Singel “D.A.N.C.E.” memang sangat ramah di telinga siapapun. Menyajikan
refren yang sing along, atmosfir feel-good song yang menyenangkan, dan
beat dansa yang bergairah.

Namun Justice tidak hanya bisa
membuat gadis-gadis Hipster bergembira di lantai dansa, namun mereka
juga mampu untuk membuat ilustrasi musik dari mimpi buruk setiap orang.
“Stress” dibuka dengan patahan-patahan string section yang dramatis
yang seakan-akan mengiringi kita pada near death experience di dalam
mimpi yang buruk. Lagu ini juga membawa saya kembali ke memori masa
kecil. Disaat saya ketakutan sewaktu menonton video klip “Thriller”
dari Michael Jackson. Nuansa yang kurang lebih sama juga ada dalam
track pembuka “Genesis” yang intro megahnya terdengar seperti musik
penyambutan di sebuah kerajaan kegelapan.

Tetapi mau segelap
apapun musik Justice, tema besar dari keseluruhan album ini tetaplah
pada musik dansa. Musik yang bisa diputar di lantai dansa atau apapun
yang berkaitan dengan pesta, bersenang-senang dan mabuk. Sementara
“Dvno” adalah musik pengantar untuk pergi ke pesta, pada “Valentine”
Justice memberikan musik yang tepat untuk mengembalikan kesadaran serta
memulihkan kepala yang masih berputar-putar setelah meminum banyak
alkohol di suatu pesta yang liar.

Album debut ini yang tidak
diberi judul dan hanya menggunakan simbol salib (Cross), menawarkan
sebuah petualangan musikal yang mengasyikkan. Menyajikan berbagai mood
yang berbeda dengan produksi yang sangat baik yang dihasilkan dari
bebunyian analog synthesizers, retro keyboards, fuzzy distortion, funky
basslines dan drum machine yang dimainkan secara buas, rapat dan detil.
Yang keseluruhannya bermain pada berbagai cakupan wilayah musik
elektronika seperti breakbeat/electro/house/club/Miami bass/trance atau
bahkan genre yang sedang hip sekarang ini yang dinamakan nu-rave.
Sebenarnya saya tidak peduli dengan semua genre tersebut, karena mau
apapun genrenya, album ini tetap akan membuat badan dan pikiran saya
untuk bergerak.

Album Review Amy Winehouse - Back to Black

August 1st, 2007 by thepopism

Amy
Jika Amy Winehouse menjadi peserta American Idol musim lalu, kemungkinan besar ia akan menjadi pemenang. Ia akan unggul di atas beatboxnya
Blake Lewis dan juga di atas kerendahan hati Melinda Dolittle. Sosok
seperti Amy inilah yang dicari oleh Randy, Paula dan Simon. Ia bisa
bernyanyi, mempunyai faktor bintang dan memiliki attitude.

Karena attitudenya
ini juga, ia sering menghiasi berbagai tabloid di Inggris. Mulai dari
kejadian membentak Bono di Q Awards, isu anorexia yang diidapnya hingga
ketergantungannya terhadap alkohol. Ia lalu menceritakan berbagai kisah
hidupnya dengan gamblang di album keduanya,Back to Black, yang penuh dengan jejak-jejak soul dari The Supremes, The Shangri-Las dan juga The Ronettes.

Untuk
sebuah album yang dimulai dengan judul “Rehab” dan diakhiri dengan
judul “Addicted”, Amy Winehouse sepertinya memang mempunyai banyak
masalah dalam kehidupannya. Dalam “Rehab”, Amy bercerita mengenai
keengganannya untuk masuk panti rehabilitasi dan lebih menyukai untuk
mendengarkan Ray Charles di rumah. Sedangkan pada “Addicted”, ia
memaparkan ketidaksukaannya untuk berbagi ganja dengan orang lain.
Semua itu ditulis dengan kebrutalan dan kelugasannya yang membuat sosok
dirinya yang kontroversial menjadi semakin bersinar.

Satu hal
yang membuat album ini lebih istimewa yaitu keberhasilannya dalam
meremajakan semua elemen musik yang ada di masa keemasan girl groups
era tahun 50an sampai 60an. Saat mendengar “Me and Mr. Jones” saya
sempat berpikir lagu ini mungkin adalah lagu hit Motown yang terlupakan
dari penghujung tahun 50an, sampai anggapan itu terpatahkan disaat Amy
berucap “what kind of fuckery is this?/ You made me miss the Slick Rick gig"

Sementara
itu “Back to Black” seperti sebuah penghormatan terhadap produser Phil
Spector, dengan echoey bass drum, rhythmic piano, chimes, orkestra yang
megah dan suara backing vokal yang rapat. Salah satu lagu favorit saya
dalam album ini, “Love is Losing Game” adalah sebuah soul ballads yang
mengagumkan yang akan membuat Diana Ross berpikir untuk kembali membuat
album soul.

Album ini menjadikan Amy Winehouse, di usianya yang
belum genap dua puluh lima tahun terdengar seperti seorang penyanyi
soul kawakan yang telah berkarir selama puluhan tahun. Lupakan segala
kisah kontroversialnya, penulisan ulang dari karya-karya Motown di abad
kedua puluh satu, tidak pernah secermat ini.

Album Review Paul McCartney - Memory Almost Full

August 1st, 2007 by thepopism

Paul
Untuk musisi kawakan sekelas Paul McCartney kejayaan masa lalu adalah
sebuah harta yang tidak akan pernah lekang untuk dikenang dan dicintai.
Kecintaannya pada masa lalu telah dibuktikan pada album terdahulunya Chaos and Creation in the Backyard
yang terdengar seperti sebuah kumpulan lagu-lagu balada milik The
Beatles yang tidak pernah dirilis. Kini McCartney sekali lagi
membuktikan betapa ia sungguh-sungguh mencintai masa lalunya bahkan di
masa saat ia telah berpisah dengan John Lennon, pasangan jiwanya. Album
Memory Almost Full ini akan membawa kita kembali ke periode karir solonya setelah bubarnya The Beatles.

Lagu-lagu
seperti “See Your Sunshine”, “Ever Present Past” dan juga “Vintage
Clothes” meniupkan nafas soft rock dari periode Wings. Sebuah periode
dimana McCartney berusaha keras untuk menunjukkan sisi lain dari
dirinya yang lebih garang dan kompleks. Periode ini sebenarnya
merupakan puncak dari segala kreativitas McCartney dimana ia
seakan-akan ingin membuktikan pada dunia bahwa ia bisa berdiri sendiri.

Salah satu track terbaik dalam album ini, “Mister Bellamy”
mempunyai kelas yang sama dengan lagu “Unckle Albert” dari album Ram.
Sebuah lagu yang memperlihatkan sisi eksperimental McCartney yang
selama ini kurang dikenal. Eksperimen seperti ini lalu dilanjutkan
dengan power ballads “House of Wax” yang digelayuti nuansa suram,
didramatisir oleh suara halilintar serta dengan vokal McCartney yang
penuh echo. Namun entah mengapa lagu ini malah mengingatkan saya dengan
tipikal lagu dari Ozzy Osborne.

Tidak cukup sampai disitu, “Only
Mama Knows” lalu menohok tajam dengan distorsi kental yang membawa
ingatan kita kepada lagunya terdahulu “Jet” dari album Band on the Run.
Masih dengan balutan rock yang tajam, “Nod Your Head” akan mengguncang
para penggemar lagu balada dari McCartney, termasuk saya.

Kekuatan
rock yang begitu menggema dalam kedua lagu tadi sebenarnya tidak
terlalu mengagetkan. Mengingat McCartneylah yang menciptakan “Helter
Skelter” – sebuah lagu terkencang dari The Beatles yang sering disebut
juga sebagai salah satu lagu heavy metal pertama yang pernah direkam.
Tetapi bagi saya, kekuatan terbesar McCartney tetaplah pada
balada-balada manis yang diciptakannya. Dan bukan pada lagu-lagu
eksperimental dan lagu-lagu kencang yang banyak menghiasi album ini.

Setelah sebelumnya kita dibuai dengan keanggunan Chaos and Creation in the Backyard , maka album ini seperti membangunkan kita dari tempat tidur yang hangat dan nyaman.

Album
ini adalah rilisan pertama dari label baru milik perusahaan kopi
terkemuka, Starbucks. Tetapi yang pasti, album ini tidak akan menjadi
teman yang baik untuk bersantai dan minum kopi di Starbucks.

Album Review Feist - the Reminder

August 1st, 2007 by thepopism

Feist_1
Setelah era keemasan Joni Mitchell berakhir di tahun 80an, rasanya
tidak ada lagi penyanyi wanita dari Kanada yang mempunyai talenta yang
begitu besar. Yang ada hanyalah seorang penyanyi pop karbitan bernama
Avril Lavigne dengan kemampuan yang terbatas namun sangat terobsesi
dengan musik rock atau juga seorang wanita kurus bernama Celine Dion
yang lengkingan suaranya yang tinggi dan menggelegar bisa membuat
setiap lansia meninggal lebih cepat karena serangan jantung.

Akhirnya setelah penantian yang panjang, di tahun 2004 melalui album Let It Die,
kita kembali disuguhkan dengan sajian musik yang menakjubkan yang
dihasilkan dari seorang penyanyi wanita sekaligus penulis lagu penuh
bakat dari Kanada yang bernama Leslie Feist. Album tersebut meraih
angka penjualan yang fantastis serta dilengkapi dengan berbagai pujian
dan penghargaan dari banyak pihak. Album Let It Die - yang sebenarnya merupakan album keduanya - adalah monumen berharga yang membuat namanya lebih dikenal publik secara luas.

Feist kini menjadi mutiara dari Kanada yang semakin berkilau. Dan album terbarunya ini yang bertajuk The Reminder
akan semakin menuntun Feist kepada puncak karirnya. Album ini penuh
akan petualangan musikal yang lebih berwarna, lebih luas dan lebih
kompleks dari apa yang pernah dilakukannya di album sebelumnya. Singel
pertama “My Man, My Moon” menampilkan harmonisasi suara Feist yang
tidak terduga untuk bisa melekat kuat di kepala kita. Sementara itu
musiknya sendiri terdengar seperti sebuah aksi disko yang tersamar,
dengan irama drum dan bass yang rapat dan statis serta dengan melodi
yang repetitif dari piano yang bermain di nada yang rendah.

Pada
“Sea Lion Woman” – yang merupakan adaptasi dari lagu tradisional yang
pernah dipopulerkan oleh Nina Simone – Feist membawa kita kepada
kemeriahan ibadat hari minggu dalam sebuah gereja yang mayoritas
umatnya warga Afrika Amerika, lengkap dengan tepuk tangan beritmik dan
suara koor yang dinamis. Sampai pada pertengahan lagu, semua itu
diambil alih oleh melodi gitar yang menggarang tajam yang memberi
nuansa rock yang kental dan agresif.

Lagu lain yang juga masih
menampilkan sisi agresif dari Feist adalah lagu “I Feel It All” yang
bernuansa jangly dengan sepenggal momen spontan atas sebuah ironi dari
kebebasan, seraya ia berseru “The wings are wide / I’ll be the one who’ll break my heart”
Sementara itu lagu up beat lainnya seperti “Past in Present”
mengingatkan saya kepada apa yang pernah dilakukannya dengan grup
kolektif Broken Social Scene.

Bagi yang mencintai sisi
sentimentil dari Feist, album ini juga menawarkan banyak lagu-lagu down
tempo yang akan menggugah perasaan. Dimulai dengan lagu pembuka dalam
album ini yang berjudul “So Sorry”, yang mempunyai aura kelembutan yang
sama dengan “Gatekeeper” - lagu pembuka dalam album Let It Die - “I’m sorry, two words / I always think after you’re gone / When I realize I was acting all wrong”,
Feist bernyanyi dengan tulus dan bersahaja di tengah iringan brush
drums, upright bass, dan gitar akustik yang berbisik lembut. Rasanya
tidak mungkin kita tidak menerima permintaan maaf darinya, terlebih
saat dia berucap di ujung lagu “We don’t need to fight and cry / we could hold each other tight..tonight”

Untuk
lirik, album ini mungkin terasa lebih personal dan juga reflektif bagi
Feist. Dengan kemampuannya berfilosofi dengan berbagai metafora yang
mengiringi, lirik Feist selalu tampak segar dan jauh dari klise "Clouds part just to give us a little sun"
Feist bernyanyi di awal lagu “The Limit To Your Love". Sebuah track
emosional yang didramatisir dengan kehadiran string section yang
merayap dan bergetar yang seakan-akan merefleksikan sebuah ketegangan
diantara dua orang kekasih yang baru saja berselisih. Sedangkan pada
lagu penutup album “How My Heart Behaves”, Feist bernyanyi “What grew and inside who / Like water lost in the sea”
di tengah alunan piano dan harpa yang saling bersahut yang menjadikan
track ini sebagai sebuah ode dari ketidakstabilan emosi dari dirinya.

Biarpun
lirik dalam album ini terasa lebih melankolis, Feist tetaplah seorang
gadis menyenangkan yang suka menari gembira dengan koreografi yang lucu
seperti saat ia menyanyikan “Mushaboom” – singel terbesarnya di album
terdahulu. Kali ini lagu “1234” yang bisa mewakili kegembiraan
tersebut. Lagu ini sangat kuat untuk bisa menjadi singel berikutnya
atau mungkin juga bisa menjadi single of the year. Hanya dalam waktu
tiga menit, lagu ini bisa mengobarkan semangat suka cita yang begitu
meriah, dirayakan dengan bebunyian banjo, gitar akustik, piano, string
section, serta brass section yang saling berpadu dengan megahnya.

Untuk
suara Feist sendiri, rasanya saya tidak perlu lagi berbicara banyak,
karena semua orang saat ini seharusnya sudah mengetahui kehebatan dan
keunikan suaranya. Suara Feist selalu memiliki muatan emosi yang magis
yang membuat lagu sesimpel apapun akan terdengar sangat bernyawa.
Seperti yang dilakukannya pada lagu “The Water” dan juga “Intuition”
dalam album ini. Mungkin kalau bukan Feist yang bernyanyi, lagu-lagu
tersebut pasti akan terasa sangat membosankan.

Album ini secara
keseluruhan telah berhasil dalam melanjutkan kesuksesan album Feist
terdahulu tanpa harus mengulangi formula yang sama. Jika album Let It Die terdengar lebih halus dan terprogram, album The Reminder
tampak lebih organik dan kasar. Contoh paling signifikan bisa didengar
dalam “The Park” yang mempunyai kualitas suara seperti rekaman demo;
direkam di tengah taman yang penuh dengan burung-burung berkicau yang
menjadikan lagu ini mempunyai ambient yang sempurna sekaligus unik.

Saya
sebagai penggemar Feist yang telah menanti selama kurang lebih tiga
tahun untuk album terbarunya ini, merasa sangat puas. Feist is back
with a reminder of what made her so special in the first place.

Underrated Favourites

April 29th, 2007 by thepopism

Belum lama ini,
saya kembali menelusuri file-file mp3 yang ada di komputer saya. Hal ini sering
saya lakukan di saat senggang. Mencari dan lalu mendengarkan kembali dengan
lebih intens album-album atau lagu-lagu yang sebelumnya jarang saya dengarkan
yang bisa jadi adalah ‘harta karun’ yang terpendam yang selama ini tidak saya
sadari. 

Lalu penelusuran
saya kali ini sampai kepada album-album bagus yang dihasilkan oleh band-band
yang kebetulan kurang mendapat perhatian dari banyak orang maupun dari berbagai
media. Kurangnya perhatian terhadap band-band ini bukan disebabkan oleh materi
yang tidak bagus, namun mungkin saja karena faktor promosi atau distribusi dari
album-album tersebut yang kurang baik sehingga musik mereka belum bisa didengar
oleh banyak telinga di luar sana. Biasanya band-band inilah yang sering disebut
sebagai underrated bands. Berikut ini adalah band-band underrated berikut album
mereka yang saat ini sering saya dengarkan. Silahkan mendownload disini, jika
ingin mendengarkan beberapa lagunya.

1. June and The Exit Wounds - A Little More
Haven Hamilton, Please,
Parasol,
1999

June and The Exit Wounds adalah sebuah alter ego dari seorang pemuda
asal Chicago yang bernama Todd Fletcher. Melalui album debutnya ini, June and
The Exit Wound dengan sukses menghidupkan kembali romantisme dari kejayaan Todd
Rundgren di awal tahun 70an yang digabungkan dengan harmonisasi suara ala Beach
Boys. Track favorit saya dalam album ini ialah “How Much I Really Love You”,
sebuah mid-tempo ballads yang mengagumkan dengan nuansa yang kurang lebih sama
dengan “I Saw The Light” milik Todd Rundgreen. Suara Todd Fletcher yang indah -
terlebih jika ia menggunakan tehnik falsettonya yang sangat halus - akan selalu
mengingatkan saya pada vokal Carl Wilson. Namun semua pengaruh dari berbagai idola
Todd Fletcher tadi tidak menjadikan June and The Exit Wound sebagai sebuah band
copy cat atau juga sebagai band kover dari lagu-lagu Todd Rungreen maupun Beach
Boys. Todd Fletcher dengan piawai menggabungkan berbagai pengaruh dari idolanya
tersebut dengan elemen-elemen soft pop sentimentil yang kuat yang dimiliki
dirinya, menghasilkan
sebuah album dengan koleksi terbaik dari lagu-lagu pop yang
cerah dan penuh kehangatan. Album ini adalah artifak berharga dari
penghujung tahun 90an yang sayang sekali terlupakan.

2. Tenderfoot – Without
Gravity
, One Little Indian, 2005

Jika The Album
Leaf, sebuah band asal Amerika mencoba membuat musik-musik dingin dan gelap
seperti kebanyakan musik yang dihasilkan dari Islandia, maka Tenderfoot adalah kebalikannya.
Tenderfoot yang berasal dari Islandia menciptakan musik yang terdengar sangat
Amerika, dengan nuansa country folk yang cukup kental. Ketika banyak musisi di
Islandia mengutak-ngatik amplifer serta efek gitar mereka agar menghasilkan
sound yang paling gelap dan dramatis, empat orang pemuda yang terdiri dari Konni
(gitar) and Kalli (gitar dan vokal), Grimsi (drum dan vokal), dan Helgi
(double-bass) malah membiarkan suara intrumen mereka senatural mungkin, agar
tercipta sound akustik yang hangat dan nyaman untuk didengar. Suara Kalli yang
lirih dan menenangkan memang membawa kedamaian tersendiri saat mendengarnya. Di
beberapa sudut di album ini saya juga merasakan aura Nick Drake yang cukup
kental. Album ini menawarkan suatu kedekatan yang intim dan kehangatan dari
sebuah kebersamaan, serta rasa saling berbagi gagasan dan emosi. Yang semuanya
itu berada jauh dari dunia yang jahat dan berbahaya di luar sana.

3. Art of Fighting – Wires, Trifekta, 2001

Wires adalah
debut album dari indie rockers asal Australia yang beranggotakan kakak
beradik
Ollie Browne (vokal dan gitar), dan Miles Browne (gitar, trumpet) serta
mantan
kekasih dari Ollie, Peggy Frew (bass), dan seorang kerabat dari Ollie
yang
bernama Marty Brown (drum). Musik Art of Fighting terinspirasi dari
romansa
jazz tahun 30an, post-grunge abstrak rock yang minimalis serta musik
pop
yang muram. Album Wires adalah eksplorasi yang melankolis terhadap
karakteristik cinta melalui melodi-melodi yang halus dan indah yang
akan
mengangkat sisi sentimentil setiap orang yang mendengarkan album ini.
Art of Fighting juga sangat lihai dalam permainan membangun mood dalam
setiap lagunya.
Lagu-lagu seperti “Akula” atau “Reason Are All I Have Left” adalah
suatu bentuk
dari kesedihan yang terorganisir dengan sangat rapi. Jika membutuhkan
album
penyemarak duka setelah ditinggalkan oleh kekasih, album ini adalah
salah satu
pilihan yang terbaik.

Review Album Travis - The Boy With No Name

April 24th, 2007 by thepopism

Tbwnnmediumyn6
Ketika Fran Healy dan ketiga kawannya membentuk Travis sepuluh tahun
yang lalu, mereka pasti tidak akan pernah menyangka bahwa musik mereka
akan mempengaruhi banyak band soft rock di Inggris seperti Embrace,
Keane, Starsailor ataupun Snow Patrol. Musik mereka juga yang telah
turut andil dalam pembentukan salah satu band terbesar dan paling
berpengaruh di dunia saat ini, yaitu Coldplay. Baru-baru ini dalam
salah satu wawancaranya, Chris Martin mengakui bahwa Travislah yang
‘menciptakan’ Coldplay.

Sepuluh tahun merupakan perjalanan
panjang yang sangat berarti namun juga melelahkan bagi Travis.
Perjalanan berliku dalam mengarungi industri musik yang kejam dan
intens. Maka dari itu, selepas promo dari album terakhir 12 Memories,
mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak dari segala kegaduhan
industri musik dengan kembali menjadi manusia normal dan menjalani
hidup mereka sebebas-bebasnya dengan orang-orang yang dikasihi. Sampai
pada waktunya, mereka siap untuk kembali dengan semangat baru yang jauh
lebih segar dari sebelumnya.

Tiga setengah tahun telah berlalu semenjak album 12 Memories dirilis
- sebuah album yang dipenuhi oleh hubungan yang gelap, dan sebuah album
yang digambarkan oleh Fran Healy sebagai sesi terapi bagi Travis. Kini
dengan segenap optimisme dan rasa positif yang dikumpulkan kembali satu
demi satu sepanjang masa istirahat mereka, Travis kembali datang dengan
sebuah album pencerahan. The Boy With No Name kemudian dipilih sebagai judul album, mengikuti tradisi judul-judul album Travis yang dibayangi oleh nuansa misterius seperti The Man Who dan Invisible Band. The Boy With No Name
sendiri sebenarnya ditunjukkan Fran Healy untuk anaknya yang baru lahir
yang sempat tidak mempunyai nama selama beberapa minggu setelah
dilahirkan.

Album ini dipenuhi oleh lagu-lagu bittersweat
pop yang lebih kuat dari apa yang pernah dilakukan Travis sebelumnya.
Singel pertama “Closer’ menjadi bukti paling nyata bahwa Travis telah
kembali dengan kekuatan penuh dan telah siap untuk kembali dicintai
semua orang. Lagu ini menebarkan kehangatan aroma cinta yang terus
mewangi setiap detiknya. Setiap detik yang dibangun dengan cermat
melalui perpaduan dari melodi yang ramah di telinga, suara gitar e-bow
yang menyayat, dan alunan suara melankolis dari Fran Healy.

Lagu lain yang masih menampilkan kekuatan melodi easy listening
dengan irama ala Travis terdapat pada “Battleship”, yang menyuguhkan
atmosfir menyenangkan yang bisa menjadi teman akrab disaat melakukan
perjalanan jauh ke luar kota. Bahkan lagu “Sailing Away” yang dijadikan
bonus track juga mempunyai melodi yang tidak kalah kuat untuk bisa
bersaing menjadi salah satu singel selanjutnya dalam album ini.

Sementara
itu, di lagu lain seperti “Selfish Jean” yang berirama upbeat,
memperlihatkan sebuah sisi dari Travis yang jarang terungkap. Dengan
menggabungkan sedikit pengaruh dari Iggy Pop dan juga Motown ke dalam
musik mereka yang manis, membuat lagu ini terdengar menyegarkan. Di
lagu “Big Chair”, Travis melanjutkan irama upbeat tadi namun dengan
nuansa yang lebih gelap dengan intro lagu yang seakan-akan diambil dari
salah satu track lagu Linkin Park.

Hasil gemblengan Brian Eno
saat workshop sebelum sesi studio dimulai dan juga pengaruh produser
Nigel Godrich saat sesi rekaman, paling terlihat dalam lagu “Colder”,
sebuah lagu weather-related yang terbaik yang dihasilkan Travis
semenjak “Why Does It Always Rain On Me” Lagu ini sarat akan sound yang
berat, gelap dan megah yang mengiringi melodi lagu yang terdengar
ringan dan melodius. Pada “Out of Space”, pengaruh kedua orang produser
hebat tadi juga masih sedikit terasa. Lagu akustik yang sederhana ini
dibalut dengan kegelapan dan suara-suara yang dramatis yang menjadikan
lagu akustik ini menjadi sebuah himne yang begitu membius.

Album ini adalah sebuah comeback
yang menyegarkan. Walaupun secara musikal album ini pada dasarnya masih
menawarkan formula musik khas Travis yang selama ini kita ketahui,
namun rasa bosan itu tidak kunjung datang saat mendengarkan album ini.
Rasanya kita akan selalu rindu mendengar musik seperti ini. Musik soft
rock yang manis dengan melodi ringan, serta dilengkapi dengan refren
kuat yang akan terdengar fantastis jika dipasang pada salah satu scene
yang emosional dalam serial Grey’s Anatomy.

Word of Mouth : Sebuah Perjalanan Magis Bersama Jaco Pastorius

April 17th, 2007 by thepopism

Tulisan ini adalah penghormatan
saya kepada Jaco Pastorius dan  karya
terbaiknya Word of Mouth.

Suatu hari di
pertengahan tahun 70an, seorang
pemuda yang sedang mengikuti audisi untuk grup
fusion Weather Report, mengenalkan dirinya. “My
name is John Francis Pastorius the Third, and I’m the greatest bass player in
the world”.
Saat itu tidak ada orang yang pernah mendengar namanya apalagi
kemampuannya dalam bermain bass, tetapi ia sungguh yakin akan bakatnya. Saat
Weather Report berkembang menjadi band fusion terdepan di tahun 70an, apa yang
dikatakannya mengenai dirinya sendiri, terbukti benar.

John Francis
Pastorius III atau yang dikenal sebagai Jaco Pastorius dengan cepatnya menarik
perhatian penikmat musik di kala itu, bahkan bagi orang-orang yang sama sekali
tidak pernah mengenal instrumen bass. Bass di tangan Jaco, tidak lagi menjadi
instrumen musik pengiring yang bersembunyi dibalik kemilaunya instrumen gitar
maupun drum. Bass tidak lagi menjadi instrumen pembentuk dasar suatu lagu
melainkan juga bisa tampil ke depan
dan menjadi pusat perhatian.

Kini 20 tahun
telah berlalu, selepas kematiannya yang tragis di tahun 1987, namun pengaruhnya
masih begitu kuat terasa khususnya bagi pemain bass di seluruh dunia hingga
saat ini. Jaco ’memaksa’ para pemain bass tersebut untuk mengkonsep ulang
hubungan mereka dengan instrumennya. Jaco dengan teknik dan kharismanya,
menjadikan bass sebagai primadona baik di atas panggung maupun dalam rekaman.

Sewaktu masih
bergabung dengan Weather Report di tahun 1976, Jaco membuat solo albumnya yang
pertama. Album ini dipenuhi oleh teknik bermain bass yang ekspresif dengan gaya
eklektik. Album tersebut semakin mengukuhkan predikatnya sebagai pemain bass
terbaik di dunia. Lalu di tahun 1981, album keduanya Word of Mouth dirilis.
Album inilah yang membuatnya dikenal tidak hanya sebagai pemain bass terbaik
di seluruh dunia namun juga sebagai arranger
yang brilian.

Album Word of Mouth ini lebih fokus kepada
kemampuan Jaco dalam menciptakan komposisi sekaligus menulis aransemen musik
untuk band dalam format besar atau big
band
. Dan tentunya, semua komposisi dalam album ini diperkaya dengan
permainan bass Jaco yang akrobatik namun disuguhkan dengan segenap kerendahan
hati. Sehingga album ini bisa dinikmati semua orang, dan bukan hanya
ditunjukkan untuk para pemain bass saja. Jadi kekhawatiran orang awam untuk
terus mendengar suara bass yang dominan sepanjang album, terbukti tidak benar.
Menu utama album ini tetap pada komposisi jazz yang absurd namun berkualitas
yang kebetulan dihasilkan dari seorang pemain bass yang tidak kalah absurd.

Album ini dibuka
dengan ”Crisis”, sebuah kegilaan abstrak sepanjang 5 menit 20 detik yang menampilkan
pattern bass Jaco yang terus
melonglong dengan kecepatan maksimal dan meliuk-liuk dinamis di bawah iringan
drum dan saxophone yang berlari liar. Setelah itu, Jaco membawa kita untuk
istirahat sejenak dengan komposisi baladanya ”3 View of Secret” yang sangat
indah
. Alunan harmonika yang
syahdu berjalan anggun diantara kemegahan yang dihasilkan dari perpaduan string
section, brass section dan juga choir yang menyatu dengan padatnya. Seperti
tidak ingin menyisakan sedikit pun ruang kosong di lagu tersebut.

Sementara itu
pada ”Liberty City” yang bernuansa swing, Jaco yang ’hanya’ bermodalkan Fender
Jazz Bass fretlessnya menjadikan instrumen upright bass - atau yang biasa
dikenal sebagai bass betot - sebagai
pecundang. Ketika semua bassist di dunia menghindari pemakaian bass elektrik
ketika bermain musik swing, Jaco dengan gagah berani mendobrak semua pakem yang
sudah ada yang mungkin membuat bassist-bassist legendaris seperti Charles
Mingus ataupun Charlie Hadden berkecil hati.

Album ini juga
menyuguhkan penghormatan Jaco kepada musisi-musisi di luar ranah Jazz yang
turut mempengaruhinya. Dimulai dengan sebuah komposisi klasik gubahan Johan
Sebastian Bach yang berjudul ”Chromatic Fantasy”, yang didaur ulang oleh Jaco
melalui permainan bassnya yang sangat rancak yang seakan membawa kita kepada
sebuah labirin yang berliku. Mungkin jika komposisi ini dimainkan pada
instrumen piano akan terdengar biasa-biasa saja. Namun jika sebuah komposisi
musik klasik dimainkan pada sebuah bass elektrik bersenar empat, itu baru luar
biasa. Tidak cukup sampai disitu, setelah kita dibawa dalam suatu labirin yang
berliku di menit pertama lagu ini, pada kelanjutannya kita akan terdampar pada
suatu negeri entah berantah di timur dunia. Menampilkan sapuan beragam intrumen
ketimuran, serta dengan guratan suara-suara perkusi yang tak beraturan, yang
kesemuanya membentuk atmosfir eksotis sekaligus unik selayaknya keliaran cipratan
cat dari kuas Jackson Pollock yang merangkai keindahan lukisan Abstrak
Ekspresionisnya.

Lalu penghormatan
kedua ditunjukkan untuk pasangan pencipta lagu terhebat sepanjang masa, John
Lennon dan Paul McCartney. ”Blackbird” lalu menjadi pilihan Jaco sebagai medium
untuk menumpahkan keeksentrikan musikalnya. Lagu ini menampilkan sebuah
percakapan menarik antara bass Jaco dengan harmonica yang dimainkan oleh Toots
Thielemans. Di penghujung lagu, sayup-sayup terdengar suara feedback dari distorsi yang bergemuruh,
yang pada detik selanjutnya akan mengantar kita kepada ”Word of Mouth”, sebuah
komposisi ciptaan Jaco yang terdengar seperti sebuah penghormatan kepada Jimi
Hendrix melalui suara distorsi bass yang kotor dan kasar.

Sampai pada
akhirnya, perjalanan roller coaster
ini berakhir dengan komposisi yang berjudul ”John and Mary”, yang memadukan
dentingan piano yang cantik, string section yang dramatis - seperti scoring
sebuah film, irama musik tepi pantai di Karibia, dan alunan paduan suara yang
membahana. Hasilnya adalah perjalanan musikal yang menyenangkan, dan sebuah
akhir bahagia untuk kita semua yang mendengarkan album ini.

Tidak berlebihan
jika menyebut Jaco sebagai seorang jenius. Dia tidak hanya mempunyai teknik
bermain bass yang unik dan di atas rata-rata, namun kemampuannya dalam membuat
komposisi musik terbukti cerdas, dan untuk sebagian kalangan, musiknya dianggap
sebagai garda depan. Ketika musisi saat ini sibuk mendekonstruksikan musik jazz
ke dalam berbagai rupa, Jaco telah lebih dulu melakukannya 30 tahun yang lalu.
Ketika para bassist di dunia memperlakukan bass elektriknya sesuai takdir –
sebagai instrumen ritem yang kurang populer, Jaco melawan semua takdir
tersebut, dengan mengeksplorasi intrumennya tanpa batas.

Sebagai seorang
yang juga bermain bass sekaligus pecinta musik jazz, saya sungguh beruntung
telah mengenal musik Jaco Pastorius. Jaco adalah mentor, teman, dan idola saya
yang tidak akan pernah saya temui secara langsung. Hanya melalui album-albumnya
saya bisa merasakan kedekatan dengannya. Sebuah kedekatan emosional yang
dihasilkan dari sebuah perjalanan musikal yang magis, seperti saat saya
mendengarkan kembali album Word of Mouth
ini. Ketika telinga ini telah lelah sehabis dibombardir oleh musik-musik
populer ala MTV, album ini menjadi sebuah oase yang melegakan. Menemani saya
pada detik-detik disaat saya kembali menyadari bahwa musik bagus akan selalu
terdengar bagus sampai kapanpun.

Review Album Norah Jones - Not Too Late

April 10th, 2007 by thepopism

Norah
Terkadang saya membandingkan sosok Norah Jones dengan Siti Nurhaliza.
Mereka berdua sama-sama memiliki citra sebagai perempuan baik-baik yang
santun, ramah dan lemah lembut yang akan menjadikan mereka berdua
sebagai calon ibu rumah tangga kesayangan mertua dan tentunya para
suami. Bedanya Norah Jones mempunyai talenta musik yang jauh lebih
besar daripada Siti Nurhaliza. Norah Jones adalah seorang penyanyi,
multi instrumentalis dan juga sekaligus sebagai seorang penulis lagu.

Sejak pemunculan pertama Norah Jones di tahun 2002, melalui debut albumnya Come Away With Me,
kita semua dibuat jatuh cinta kepadanya. Norah Jones sangat berhasil
menerjemahkan citra dirinya yang baik itu melalui musiknya yang
terdengar anggun dan menenangkan. Membuat kita yang mendengarnya merasa
nyaman dan tentram. Seperti seolah-olah melihat dunia yang riuh ini
berjalan sangat harmonis dan damai.

Begitu juga dalam album ketiganya Not Too Late,
kelembutan Norah Jones masih bisa kita temui, walaupun dalam album ini
ia memandang dunia tidak lagi seindah yang dulu. Kali ini kita bisa
merasakan adanya kesedihan, kemarahan dan keresahan yang tetap
terbungkus rapi oleh kelembutan dirinya yang selama ini kita cintai.
Dalam “My Dear Country”, Norah Jones dengan sangat halus memperlihatkan
sikap politiknya. Memang tidak setajam Dixie Chicks dalam “Not Ready to
Make Nice”, namun dengan lirik seperti ini : "I cherish you my dear
country/I love all the things that you’ve given me/And most of all that
I am free/To have a song that I can sing/On election day."
, ia
bisa menghadirkan suatu sudut pandang yang menarik dalam membuat lagu
yang berbau politis, tentunya dengan ciri khasnya selama ini.

Pada
“Wish I Could”, Norah Jones memperlihatkan kebenciannya kepada perang
Irak, namun lagi-lagi tetap dalam bentuk yang paling halus. Ia
mengangkat efek perang terhadap para istri tentara yang mati. "She says love in the time of war’s not fair/He was my man but they didn’t care/I don’t tell her that I once loved you too", sementara itu dalam “Broken”, ia bercerita mengenai duka para tentara di medan perang. "He’s got blood on his shoes and mud on his brim/Did he do it to himself or was it done to him?"

Jika dalam album Come Away With Me sarat akan nafas pop/jazz, dan di Feels Like Home
penuh akan eksplorasinya dalam menggali musik-musik akar Amerika, album
ketiganya ini terdengar seperti penggabungan dari kedua albumnya
terdahulu. Hal itulah yang membuat musik dalam album ini menjadi lebih
berwarna dan eklektik. Pada singel pertama “Thinking About You”, Norah
menyajikan sedikit atmosfir jazz dengan suara Wurlitzer organ yang
dimainkannya yang dipadukan oleh brass section yang bermain dalam
semangat blues dan soul. Pada singel kedua “Sinkin Soon”, ia
mengadaptasi gaya Dixieland rag dimana suara banjo dan mandolin
bersahut-sahutan dengan muted trombone yang terdengar nakal. Di lagu
lain seperti “The Sun Doesn’t Like You”, Norah menampilkan kemuraman
yang kurang lebih sama dengan apa yang biasa dilakukan oleh Nick Drake.

Walau bagaimanapun, Norah Jones tetap bisa merangkai keragaman
tersebut sedemikian indah dengan signature sound yang ia miliki.
Menghasilkan suatu musik dengan nuansa akustik kental yang terdengar
hangat dan intim dan akan selalu mudah untuk didengar di berbagai
kesempatan. Musiknya bisa menjadi teman minum kopi di salah satu sudut
ruangan di Starbucks, atau untuk meredakan kepenatan di dalam mobil
saat mengalami kemacetan di Jakarta, atau juga bisa menjadi musik latar
yang akan diputar di kamar tidur sebelum bercinta dengan pasangan.

Sekarang
kita tinggal berharap bahwa suatu saat nanti, Norah Jones tidak akan
pernah berpikir untuk merubah citra dirinya - yang santun dan lemah
lembut - menjadi seorang gadis seksi yang lincah dengan menggandeng
produser seperti Timbaland dan teman-teman sejawatnya yang telah sukses
membuat Jewel dan Nelly Furtado menjadi kuda liar. Saya tidak sanggup
membayangkan Norah Jones menjadi seperti itu. Jika Norah Jones
berdandanan serba terbuka dengan musiknya didominasi oleh bebunyian
synthesizer serta menampilkan guest rapper, apa kata dunia?!