Album Review Amy Winehouse - Back to Black

Amy
Jika Amy Winehouse menjadi peserta American Idol musim lalu, kemungkinan besar ia akan menjadi pemenang. Ia akan unggul di atas beatboxnya
Blake Lewis dan juga di atas kerendahan hati Melinda Dolittle. Sosok
seperti Amy inilah yang dicari oleh Randy, Paula dan Simon. Ia bisa
bernyanyi, mempunyai faktor bintang dan memiliki attitude.

Karena attitudenya
ini juga, ia sering menghiasi berbagai tabloid di Inggris. Mulai dari
kejadian membentak Bono di Q Awards, isu anorexia yang diidapnya hingga
ketergantungannya terhadap alkohol. Ia lalu menceritakan berbagai kisah
hidupnya dengan gamblang di album keduanya,Back to Black, yang penuh dengan jejak-jejak soul dari The Supremes, The Shangri-Las dan juga The Ronettes.

Untuk
sebuah album yang dimulai dengan judul “Rehab” dan diakhiri dengan
judul “Addicted”, Amy Winehouse sepertinya memang mempunyai banyak
masalah dalam kehidupannya. Dalam “Rehab”, Amy bercerita mengenai
keengganannya untuk masuk panti rehabilitasi dan lebih menyukai untuk
mendengarkan Ray Charles di rumah. Sedangkan pada “Addicted”, ia
memaparkan ketidaksukaannya untuk berbagi ganja dengan orang lain.
Semua itu ditulis dengan kebrutalan dan kelugasannya yang membuat sosok
dirinya yang kontroversial menjadi semakin bersinar.

Satu hal
yang membuat album ini lebih istimewa yaitu keberhasilannya dalam
meremajakan semua elemen musik yang ada di masa keemasan girl groups
era tahun 50an sampai 60an. Saat mendengar “Me and Mr. Jones” saya
sempat berpikir lagu ini mungkin adalah lagu hit Motown yang terlupakan
dari penghujung tahun 50an, sampai anggapan itu terpatahkan disaat Amy
berucap “what kind of fuckery is this?/ You made me miss the Slick Rick gig"

Sementara
itu “Back to Black” seperti sebuah penghormatan terhadap produser Phil
Spector, dengan echoey bass drum, rhythmic piano, chimes, orkestra yang
megah dan suara backing vokal yang rapat. Salah satu lagu favorit saya
dalam album ini, “Love is Losing Game” adalah sebuah soul ballads yang
mengagumkan yang akan membuat Diana Ross berpikir untuk kembali membuat
album soul.

Album ini menjadikan Amy Winehouse, di usianya yang
belum genap dua puluh lima tahun terdengar seperti seorang penyanyi
soul kawakan yang telah berkarir selama puluhan tahun. Lupakan segala
kisah kontroversialnya, penulisan ulang dari karya-karya Motown di abad
kedua puluh satu, tidak pernah secermat ini.

Leave a Reply