Album Review Justice - Cross

Justice_1
Noise adalah suara yang paling dihindari - baik itu di atas panggung
maupun saat di dalam studio - oleh para musisi yang terbiasa memainkan
instrumen musik elektrik. Terkadang kabel jack yang menghubungkan
instrumen elektrik pada amplifier tidak begitu bagus kondisinya,
sehingga sering menimbulkan noise yang sangat menganggu untuk didengar.
Namun setelah saya mendengarkan “Waters of Nazareth” yang ada dalam
debut album Justice ini, pandangan saya terhadap noise yang berisik dan
kotor tersebut telah berubah. Kini noise bukan lagi musuh utama di
dalam musik. Melainkan bisa menjadi elemen penting yang akan memperkaya
musik itu sendiri.

Saya tidak habis berpikir bagaimana dua
pemuda asal Perancis ini bisa meramu noise yang gaduh sedemikian rupa
sehingga bisa membuat suatu orkestrasi suara yang indah dan adiktif
untuk didengar. Begitu juga pada “New Jack”, dimana drum dan bas
disusupi oleh pihak ketiga – dalam hal ini noise – yang
bersahut-sahutan dengan robot-voiced synthesizers lalu menghasilkan
sebuah dance music yang sangat subtil yang secara stimultan bisa
membuat beberapa bagian tubuh manusia untuk bergerak dengan sendirinya.

Di luar itu semua, yang pasti album ini memberikan banyak
jawaban mengapa Justice - sebagai sebuah grup baru - bisa dibicarakan
banyak orang serta menarik perhatian yang begitu besar jauh sebelum
album debut mereka dirilis baru-baru ini. Sebelumnya, saya mengetahui
keberadaan grup Justice dari teman saya Adit Ngkud.
Dia sering sekali membahas grup Justice di halaman Multiplynya. Saat
itu saya belum pernah mendengar musiknya, namun saya juga belum
tergerak untuk mengunduh musik mereka. Sampai suatu malam saat sedang
menonton televisi, saya melihat video musik dari lagu “D.A.N.C.E.” Dan
mulai detik itu rasa ketertarikan saya terhadap grup ini mulai tumbuh.
Singel “D.A.N.C.E.” memang sangat ramah di telinga siapapun. Menyajikan
refren yang sing along, atmosfir feel-good song yang menyenangkan, dan
beat dansa yang bergairah.

Namun Justice tidak hanya bisa
membuat gadis-gadis Hipster bergembira di lantai dansa, namun mereka
juga mampu untuk membuat ilustrasi musik dari mimpi buruk setiap orang.
“Stress” dibuka dengan patahan-patahan string section yang dramatis
yang seakan-akan mengiringi kita pada near death experience di dalam
mimpi yang buruk. Lagu ini juga membawa saya kembali ke memori masa
kecil. Disaat saya ketakutan sewaktu menonton video klip “Thriller”
dari Michael Jackson. Nuansa yang kurang lebih sama juga ada dalam
track pembuka “Genesis” yang intro megahnya terdengar seperti musik
penyambutan di sebuah kerajaan kegelapan.

Tetapi mau segelap
apapun musik Justice, tema besar dari keseluruhan album ini tetaplah
pada musik dansa. Musik yang bisa diputar di lantai dansa atau apapun
yang berkaitan dengan pesta, bersenang-senang dan mabuk. Sementara
“Dvno” adalah musik pengantar untuk pergi ke pesta, pada “Valentine”
Justice memberikan musik yang tepat untuk mengembalikan kesadaran serta
memulihkan kepala yang masih berputar-putar setelah meminum banyak
alkohol di suatu pesta yang liar.

Album debut ini yang tidak
diberi judul dan hanya menggunakan simbol salib (Cross), menawarkan
sebuah petualangan musikal yang mengasyikkan. Menyajikan berbagai mood
yang berbeda dengan produksi yang sangat baik yang dihasilkan dari
bebunyian analog synthesizers, retro keyboards, fuzzy distortion, funky
basslines dan drum machine yang dimainkan secara buas, rapat dan detil.
Yang keseluruhannya bermain pada berbagai cakupan wilayah musik
elektronika seperti breakbeat/electro/house/club/Miami bass/trance atau
bahkan genre yang sedang hip sekarang ini yang dinamakan nu-rave.
Sebenarnya saya tidak peduli dengan semua genre tersebut, karena mau
apapun genrenya, album ini tetap akan membuat badan dan pikiran saya
untuk bergerak.

3 Responses to “Album Review Justice - Cross”

  1. bark bark Says:

    LOVE IT!

  2. iqbal Says:

    album yg memperkenalkan saya dgn ed banger yg ternyata punya rilisan2 yang asoygeboy…

  3. _rifs_ Says:

    Yeah

Leave a Reply